Banner
jogja belajar
Login Member
Username:
Password :
Fans Page fb
Agenda
13 December 2017
M
S
S
R
K
J
S
26
27
28
29
30
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
1
2
3
4
5
6
Jajak Pendapat
Fullday School, siswa beraktifitas penuh di sekolah, pendapat Anda?
Setuju
Tidak Setuju
Tidak Peduli
  Lihat

Laporan Observasi Kebersihan Lingkungan SMP N 1 Kalasan

Tanggal : 02-03-2016 09:59, dibaca 643 kali.

LAPORAN

OBSERVASI KEBERSIHAN LINGKUNGAN

SMP N 1 KALASAN

 

Disusun untuk memenuhi tugas KIR ILMU PENGETAHUAN SOSIAL

oleh Abdurahman Wal Ikram (8F/01) dan Atika Chandra Kirana (8B/05)

 

Kebersihan lingkungan merupakan faktor penentu sehat tidaknya lingkungan tempat tinggal. Di sekolah, kebersihan lingkungan mencerminkan kebersihan warga sekolah itu sendiri. Warga sekolah bertanggung jawab penuh, karena merekalah yang setiap hari memakai sarana dan prasarana sekolah.

Alasan kami mengadakan observasi kebersihan lingkungan sekolah adalah kami merasa prihatin dengan keadaan kebersihan lingkungan di sekolah kita, SMP Negeri 1 Kalasan, yang akhir-akhir ini kurang dipedulikan oleh warga sekolah. Di samping itu, kami ingin menyadarkan kepada warga sekolah tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan terutama lingkungan sekitar sekolah.

Kami sebagai warga SMP N 1 Kalasan, khususnya TIM KIR IPS merasa tergugah dalam menghadapi masalah kebersihan lingkungan yang akhir-akhir ini semakin memprihatinkan. Kami mencoba melakukan observasi lapangan untuk mendapatkan bukti-bukti keadaan kebersihan lingkungan yang ada di sekolah. Hasil dari observasi lapangan yang kami lakukan, kami mendapatkan fakta bahwa masih banyak warga sekolah, khususnya peserta didik, yang kurang memperhatikan kebersihan lingkungan sekitarnya. Fakta yang kami temukan saat observasi lapangan, antara lain:

  1. banyak peserta didik yang masih membuang sampah tidak pada tempatnya, dibuktikan dengan adanya plastik atau bungkus-bungkus makanan di halaman sekolah yang berserakan, bungkus makanan di pot tanaman dan ember pembuangan air AC;
  2. kurangnya perhatian warga sekolah terhadap selokan yang mampet atau tersumbat, jika musim penghujan datang selokan yang tersumbat akan mengakibatkan belum berfungsinya selokan secara maksimal, mengakibatkan air menggenang di halaman sekolah;
  3. petugas piket harian yang bekerja kurang maksimal dalam membersihkan lingkungan kelasnya, dibuktikan dengan selokan kecil yang terdapat di depan kelas tidak dibersihkan atau dibuang sampah-sampahnya serta bekas permen karet atau benda lengket lainnya yang menempel di lantai kemudian menghitam, dan menjadi alasan bagi petugas piket tidak membersihkannya karena merasa jijik;
  4. penggunaan penghapus cair atau tipe-x yang tidak sesuai pada tempatnya, dibuktikan dengan aksi jahil para peserta didik dengan corat-coret laci meja yang sebetulnya hal ini telah merujuk pada perusakan atau vandalisme sarana sekolah;
  5. laci meja yang di dalamnya terdapat sampah atau benda-benda yang seharusnya tidak dibawa saat KBM, salah seorang peserta didik mengatakan bahwa alasan dia tidak segera membuang sampah yang ada di lacinya terutama sampah bungkus makanan adalah rasa malas, menunggu sampah sampai banyak, dan baru akan dibuang jika waktu istirahat telah tiba.
  6. Penempelan stiker-stiker tidak jelas asal-usulnya yang kemudian mengganggu pemandangan sarana sekolah, terutama pada papan tulis.
  7. Sampah yang dibiarkan membusuk di dalam tempat sampah dan tidak dibuang ke tempat pembuangan akhir.

Dari beberapa contoh di atas dapat kita simpulkan, bahwa masalah kebersihan lingkungan yang terjadi di sekolah kita, rata-rata disebabkan oleh kurangnya kesadaran warga sekolah dalam menjaga kebersihan lingkungannya sendiri. Untuk mencegah dan mengatasi berbagai permasalahan di atas, hal-hal yang dapat kita lakukan antara lain:

  1. Memberlakukan kembali sistem pemisahan sampah organik dan anorganik atau sampah basah dan kering, termasuk sampah yang ada pada Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
  2. Menggalakkan budaya menghindari atau melakukan tindakan seminimal mungkin melanggar tata tertib sekolah, khususnya masalah kebersihan lingkungan.
  3. Mengikutsertakan seluruh warga sekolah dalam kegiatan Jumat Terpadu Kerja Bakti, mulai dari kepala sekolah, guru, karyawan, siswa, sampai pedagang di kantin bekerja membersihkan lingkungan sekolah.
  4. Melakukan sosialisasi atau penyuluhan dan pendidikan lingkungan untuk menumbuhkan kesadaraan warga sekolah tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.
  5. Guru wajib menegur dan menasehati peserta didik yang membuang sampah sembarangan, kalau perlu ada kebijakan dari sekolah untuk memberikan denda bagi warga sekolah yang membuang sampah sembarangan.
  6. Guru memberi contoh yang baik dalam menjaga kebersihan lingkungan.
  7. Memperbanyak pemasangan slogan atau simbol-simbol yang berkenaan dengan kesadaran untuk menjaga kebersihan lingkungan sejak dini yang dimulai dari lingkungan sekolah dan nantinya akan di pasang di tempat-tempat yang strategis, termasuk di ruang kamar mandi/WC.
  8. Membudayakan sikap gotong-royong dan saling bahu membahu.
  9. Menegakkan hukum atau aturan tata tertib secara adil dan konsisten untuk menghidari terjadinya pencemaran lingkungan.

Apabila kegiatan-kegiatan di atas dapat dilakukan nantinya akan berdampak pada kebersihan lingkungan sekolah yang terjaga dan dapat membuat citra SMP N 1 Kalasan dalam hal kebersihan menjadi lebih baik.

Pada prinsipnya menjaga kebersihan lingkungan itu memiliki banyak manfaat, antara lain:

  1. Terhindar dari penyakit yang disebabkan oleh lingkungan yang kurang sehat.
  2. Lingkungan menjadi lebih sejuk dan terasa indah.
  3. Pemandangan sarana sekolah yang nyaman dipandang.
  4. Lebih tenang dalam menjalankan aktivitas sehari-hari di sekolah.
  5. Bebas dari polusi tanah, air, dan udara.
  6. Kebersihan lingkungan yang terjaga dengan baik dapat mendorong semangat belajar peserta didik.
  7. Kebersihan lingkungan sekolah menjadi salah satu keunggulan sekolah.
  8. Merupakan perilaku cerminan budaya sekolah.
  9. Lingkungan yang bersih dan sehat dapat memperlancar kinerja otak manusia.
  10. Lingkungan yang bersih dapat menciptakan suasana dan inspirasi baru.

Dari pembahasan mengenai kebersihan lingkungan di atas, kesimpulan yang dapat kita ambil adalah kebersihan lingkungan sekolah menjadi tanggung jawab bersama seluruh warga sekolah. Oleh karena itu, kebersihan harus dijaga agar situasi dan kondisi sekolah nyaman untuk melakukan aktivitas kegiatan, khususnya kegiatan pembelajaran. Sistem pemisahan sampah perlu digalakkan kembali yang didukung dengan kesadaran dan kepedulian warga sekolah terhadap lingkungan. Para guru juga dapat memberikan contoh kepada peserta didik untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan sekolah, seperti dengan membuang sampah pada tempatnya dan juga memberi arahan atau teguran pada peserta didik yang terlihat ataupun sering membuang sampah sembarangan. Jika sekolah itu bersih, jauh dari kesan kotor atau kumuh, maka citra sekolah di masyarakat pun juga akan baik.



Pengirim :
Kembali ke Atas
Artikel Lainnya :
Silahkan Isi Komentar dari tulisan artikel diatas
Nama
E-mail
Komentar

Kode Verifikasi
                

Komentar :


   Kembali ke Atas