Banner
jogja belajar
Login Member
Username:
Password :
Fans Page fb
Agenda
13 December 2017
M
S
S
R
K
J
S
26
27
28
29
30
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
1
2
3
4
5
6
Jajak Pendapat
Fullday School, siswa beraktifitas penuh di sekolah, pendapat Anda?
Setuju
Tidak Setuju
Tidak Peduli
  Lihat

Pendidikan Indonesia: Pendidikan Sebatas Nilai UN, Belum Dapat Memaknai Tujuan Bernegara

Tanggal : 04-06-2013 06:19, dibaca 705 kali.

SpensakaVoice. Pendidikan kita tidak pernah mengajarkan pada anak-anak sekolah mengenai kemandirian sedini mungkin, tentang membuat impian menjadi negara besar, makmur dan beradab karena karakter bangsa yang dimilikinya. Pendidikan kita menganut siklus 3 tahunan setelah jenjang SD, yaitu fokus lulus UN 100% dengan nilai maksimal. Tidak pernah kita diajarkan bagaimana berkompetisi di lingkungan global 10 tahun yang akan datang, bagaimana mengelola kekayaan alam secara mandiri, berbagi dan menolong dengan sesama, memegang teguh kebudayaan, terlebih merasa hidup bahagia karena BERAGAMA. Apakah kehebatan nilai UN ini, jawabannya cukup sederhana, yaitu hanya kekaguman sementara, mungkin 1-2 bulan menunggu pendaftaran siswa baru/mahasiswa baru, dan segera setelah itu akan sirna menjadi kenangan indah dalam hidup Anda. Saya tidak mengharapkan UN dihapuskan, hanya saja dilengkapi pendidikan yang memiliki tujuan hidup bernegara dengan kemampuan mandiri. Rasa simpati  selalu dikendalikan oleh tayangan media, jarang melekat pada hati kita. Bersimpati dan merasa terpanggil untuk menyelesaikan permasalahan negara yang sedang dihadapi tidak ada yang perduli tentang itu, karena kita juga menghadapi masalah pribadi yang disana negara tidak pernah hadir dalam memenuhi harapan kita. Akibatnya adalah setiap saat kita menjadi masyarakat yang minta dilayani daripada melayani, semua sibuk dengan urusannya dan tidak mau tahu dengan nasib tetangganya. Ini bukan kehidupan bernegara sesungguhnya, ini seperti kumpulan partikel negara didalam NKRI.

Tidak pernah di rencanakan. Apa yang akan kita lakukan 20 tahun mendatang, bagaimana kekuatan bernegara yang besar diarahkan untuk menuju masyarakat produksi, tidak pernah kita dengar. Negeri ini punya ahli-ahli superior di dunia internasional, dan mereka juga produk pendidikan dengan UN juga. Tetapi mereka hanya sendiri-sendiri berjuang dan kebanyakan jenuh dengan permasalahan bangsa dimana fitnah kadang menimpa mereka, ya lebih baik mengabdikan ilmunya untuk negara tetangga, dan itu wajar sekali, bukan karena mereka tidak merasa bernegara, bahkan jika ditanya, mereka akan tetap memegang teguh status WNI. Jiwa nasionalisme ini memang melekat hebat, mereka sebenarnya menunggu bangsa ini sadar untuk bernegara. Mereka tidak melupakan negeri ini, tetapi yang benar negara yang melupakan mereka. Anda bersekolah formal hanya sampai jenjang SMA/K, selanjutnya anda akan merasakan kebingungan peran setelah itu. Saya pernah merasakan ini, dan mungkin juga dengan Anda ketika gagal melompat ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Ya mau apa lagi, memiliki kemampuan apa sehingga potensi diri bisa dimanfaatan jarang kita ketahui. Bahkan kita mengalihkan potensi diri karena merasa tidak dapat membuat kehidupan pribadi ini menjadi lebih baik.  Kebingungan lulusan ini bagi yang berkemampuan pemikiran lebih dan beruntung atau punya harta lebih, cukup diatasi dengan masuk perguruan tinggi, ya sekedar memperbesar peluang mencari penghidupan yang layak dan menghindarkan diri dari status jobless. Sedangkan yang lain akan membuat lapangan kerja mandiri, tapi jumlahnya hanya terbatas dan merekapun sulit menolong mereka yang terlanjur putus harapa itu.

Mereka merasa negara ini tidak mau menolong mereka. Lagi-lagi pendidikan ketika sekolah formal menjadikan mereka menjadi individualis dan kurang peka terhadap masalah sosial karena menganggap yang lain sebagai pemalas dan tidak punya inisiatif. Bahkan jika Saya dikatakan demikian oleh Anda, Saya akan langsung membalik pernyataan itu demikian, ilmu atau bakti apa yang dapat Anda abdikan bagi negeri ini selain mengkorupsi kekayaan negeri untuk keluarga Anda sendiri, menyedihkan. Akibatnya perselisihan ini sering berakhir dengan kontak fisik. Sekali lagi ini karena tidak ada target bangsa ini mau dibawa seperti apa. Melanjutkan hidup dan bertahan hidup  adalah alasan yang sering kita pilih; bekerja atau mengakhiri masa lajang. Kita terpaksa mengubur cita-cita tinggi yang dulu kita impikan. Tentu sekarang Anda akan menyalahkan sistem pendidikan kita, tapi ini yang jarang kita ungkapkan dan membiarkan sirna saran itu tanpa ada kemauan untuk menyampaikan untuk menolong generasi penerus bangsa. Jujur, kata-kata ini bentuk keputusasaan saya dan ini menyakitkan, dan saya tidak akan menuliskan lagi karena kita cinta Bangsa Indonesia sebagai rahmad yang besar dari Tuhan YME.



Pengirim : Adm-Brn
Kembali ke Atas
Artikel Lainnya :
Silahkan Isi Komentar dari tulisan artikel diatas
Nama
E-mail
Komentar

Kode Verifikasi
                

Komentar :


   Kembali ke Atas