Banner
jogja belajar
Login Member
Username:
Password :
Fans Page fb
Agenda
28 May 2018
M
S
S
R
K
J
S
29
30
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
1
2
3
4
5
6
7
8
9
Jajak Pendapat
Fullday School, siswa beraktifitas penuh di sekolah, pendapat Anda?
Setuju
Tidak Setuju
Tidak Peduli
  Lihat

OSIS, Bukan Penghambat Untuk Meraih Presatasi!

Tanggal : 09-11-2012 07:38, dibaca 1032 kali.

Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) merupakan salah satu bagian dalam keorganisasian di tiap sekolah, khususnya jenjang  Menengah Pertama dan Menengah Atas. Organisasi ini ditujukan bagi siswa-siswi untuk bersosialisasi, melatih diri, dan menemukan pengalaman dalam berorganisasi. OSIS juga dapat dijadikan sebagai momentum untuk unjuk kemampuan atau skill yang dimiliki guna mengembangkan potensi diri. Hal yang diperoleh sewaktu mengikuti kegiatan OSIS kelak akan berguna di masa yang akan datang.

Terkadang siswa enggan untuk menjadi pengurus atau sekedar mengikuti kegiatan yang diadakan OSIS. Beberapa alasan yang muncul adalah kegiatan OSIS sangat padat sehingga menyita banyak waktu dan fokus untuk belajar menjadi berkurang. Alasan lainnya adalah terlibat dalam OSIS akan membuat badan mudah lelah. Tapi terlepas dari alasan itu, bukankah setiap pengorbanan pasti ada hasilnya?

Dian Puspitaningrum, siswa kelas IXB misalnya, adalah siswa yang ikut menjadi pengurus OSIS SMP Negeri 1 Kalasan periode 2011/2012. Dia dikenal sebagai sosok yang periang, senang bergaul, dan suka mengikuti kegiatan-kegiatan yang diadakan sekolah. Walaupun banyak aktivitas yang diikuti, namun dari sisi akademik masih ia kedepankan. Terbukti dari hasil pelaksanaan Ujian Tengah Semester (UTS) Ganjil 2012/2013 untuk empat mata pelajaran yang diujikan pada Ujian Nasiolal, ia mendapatkan nilai 86 (Bahasa Indonesia), 85 (Matematika), 92 (Bahasa Inggris), dan 88 (IPA), sehingga menempatkan dirinya pada peringkat 4 paralel dari 214 siswa. Prestasi terbaiknya adalah menjadi wakil D.I Yogyakarta dalam ajang Story Telling tingkat nasiolan yang diselenggarakan di Nusa Tenggara Barat (NTB) pada bulan Juli tahun 2012 kemarin.

Berikut pendapat Dian Puspitaningrum tentang OSIS:

Author     : “Sejauh mana peranan OSIS bagi pengembangan diri Dian?”

Dian          : “Buat Dian, OSIS itu wadah buat berekspresi. Kita share semuanya. Kita diskusi buat sekolah. Seru, asik, nyenengin baget jadi anak OSIS.”

Author     : “Adakah konsekuensi dari keikutsertaan Dian di OSIS?”

Dian          : “Ya memang, kalau namanya pilihan pasti ada resiko. Memang sih ketinggalan pelajaran, tapi tetep aja OSIS bantu aku untuk lebih mudah bersosialisasi. Bisa ikut dalam macam-macam kegiatan di dalam atau di luar sekolah. Nambah teman dan pengalaman. OSIS itu guna banget buat perkembangan sosial dan pendidikan aku. Belajar menerima dan mengungkapkan pendapat ya di OSIS.”

Dian membuktikan bahwa kesertaannya mengikuti kegiatan OSIS tidak serta merta akan mengganggu hasil belajar yang ia peroleh, justru banyak hal yang ia dapatkan dari kegiatan OSIS.

Apakah kalian mengenal sosok Anies Baswedan?

Anies Baswedan, salah satu intelektual pendidikan Indonesia juga memperoleh pengalaman berangkat dari organisasi semasa ia menempuh pendidikan formal maupun di luar pendidikan formal. Masa kecil Anies (Baswedan) dihabiskan di Kota Pelajar, Yogyakarta. Kedua orang tuanya adalah figur di dunia pendidikan. Ayahnya, Rasyid Baswedan, pernah menjabat sebagai Wakil Rektor Universitas Islam Indonesia, sedangkan Aliyah Rasyid, ibundanya, adalah Guru Besar di Universitas Negeri Yogyakarta.

Sejak kecil Anies sudah akrab dengan dunia organisasi dan kepemimpinan. Ketika usianya baru 12 tahun, Anies membentuk kelompok anak-anak muda (7-15 tahun) di kampungnya yang diberi nama “Kelabang” (Klub Anak Berkembang). Mereka mengadakan berbagai kegiatan olahraga dan kesenian. Ketika SMA, Anies pernah menjadi ketua OSIS se-Indonesia ketika ia mengikuti pelatihan kepemimpinan di Jakarta pada September 1985. Ia menjadi ketua untuk 300 delegasi SMA-SMA se-Indonesia. Saat itu Anies baru duduk di kelas sepuluh (satu SMA).

Sewaktu di bangku SMAN 2 Yogyakarta, ia terpilih sebagai peserta dalam program pertukaran pelajar AFS Intercultural Programs yang diselengarakan oleh Bina Antarbudaya selama setahun (1987-1988) di Milwaukee, Wiconsin, Amerika Serikat. Semasa kuliah di UGM ia aktif dalam organisasi kemahasiswaan. Anies pun terpilih menjadi Ketua Umum Senat Mahasiswa UGM. Berkat kejeliannya dalam mengkombinasikan antara kepandaian dan kemampuan personalnya, ia mendapatkan berbagai beasiswa pendidikan dari luar negeri hingga mampu menyelesaikan disertasinya[1] tentang “Otonomi Daerah dan Pola Demokrasi di Indonesia” melalui Universitas Northern Illionis, Amerika Serikat pada tahun 2005.

Pada 15 Mei 2007, Anies Baswedan dilantik menjadi Rektor Universitas Paramadina. Anies menjadi rektor menggantikan posisi yang dulu ditempati oleh cendekiawan dan intelektual muslim, Nurcholish Madjid, yang juga merupakan pendiri universitas tersebut. Saat itu ia berusia 38 tahun dan menjadi rektor termuda di Indonesia.

Majalah Foreign Policy dari Amerika Serikat memasukan Anies dalam daftar 100 Intelektual Publik Dunia. Nama Anies Baswedan tercantum sebagai satu-satunya orang Indonesia yang masuk pada daftar yang dirilis majalah tersebut pada edisi April 2008. Sementara itu, World Economic Forum, berpusat di Davos, AS, memilih Anies sebagai salah satu Young Global Leaders (Februari 2009). Kemudian, pada April 2010, Anies Baswedan terpilih sebagai satu dari 20 tokoh yang membawa perubahan dunia untuk 20 tahun mendatang versi majalah Foresight yang terbit di Jepang akhir April (2010). Dalam edisi khusus yang berjudul “20 Orang 20 Tahun” tersebut, Majalah Foresight menampilkan 20 tokoh yang diperkirakan akan menjadi perhatian dunia. Mereka akan berperan dalam perubahan dunia dua dekade mendatang. Nama Anies disematkan bersama 19 tokoh dunia lain seperti Perdana Menteri Rusia (periode 1999-2000 dan 2008-2012) Vladimir Putin dan Presiden Venezuela Hugo Chavez. Majalah bulanan berbahasa Jepang itu menilai bahwa Anies adalah tokoh yang merupakan salah satu calon pemimpin Indonesia masa mendatang.

Berangkat dari biografi singkat Anies Baswedan di atas seharusnya mampu membuka wawasan kita bahwa berawal dari kegemaran untuk mengikuti kegiatan organisasi akan menjadikan seseorang matang di masa mendatang. Jadi, kegiatan sekolah seperti OSIS bukanlah alasan untuk menjadikan prestasi akademik menurun. Siswa yang berpikiran maju justru akan menjadikan OSIS sebagai wadah untuk mengoptimalkan kemampuan yang dimiliki, sejauh mana ia memiliki kemampuan pada usianya tersebut. Perlu diketahui bahwa kemampuan seseorang akan semakin berkembang manakala ia mau mengasahnya. Pengalaman demi pengalaman yang diperoleh akan menjadikan seseorang mudah tanggap terhadap suatu hal dan mampu menyelesaikan masalah dengan bijaksana. Tidak menutup kemungkinan kedepannya akan menjadi orang besar seperti Anies Baswedan.



[1] Disertasi merupakan karangan ilmiah yang ditulis untuk mendapatkan gelar doctor (S3).

 



Pengirim : Bachtiar Yuliyardi
Kembali ke Atas
Artikel Lainnya :
Silahkan Isi Komentar dari tulisan artikel diatas
Nama
E-mail
Komentar

Kode Verifikasi
                

Komentar :


   Kembali ke Atas